Memuat berita

Nasional

Gibran Dorong Pariwisata Indonesia Go Digital dan Mendunia, Warga Lokal Harus Ikut Rasakan Manfaatnya

Fazlur Rahman · 19 Oktober 2026 · 11:37 WIB · 2 dibaca
Gibran Dorong Pariwisata Indonesia Go Digital dan Mendunia, Warga Lokal Harus Ikut Rasakan Manfaatnya

Foto: Warna Indonesia

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong pemanfaatan inovasi teknologi untuk mengoptimalkan potensi kekayaan alam dan budaya Indonesia, khususnya di sektor pariwisata. Menurutnya, pengembangan pariwisata nasional tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi, tetapi juga membutuhkan strategi digital, penguatan industri kreatif, serta keterlibatan masyarakat lokal agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Pesan tersebut disampaikan Gibran di hadapan ratusan wisudawan Institut Pariwisata Trisakti pada Selasa (13/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya kemampuan pelaku pariwisata beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan daya saing destinasi Indonesia di tingkat internasional.

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang beragam, mulai dari pegunungan, pantai, hingga tradisi dan warisan budaya yang berkembang di berbagai daerah. Namun, potensi tersebut perlu dikelola dengan pendekatan yang tepat agar dapat menarik lebih banyak wisatawan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mencapai tujuan tersebut. Melalui promosi berbasis internet, media sosial, platform digital, dan berbagai inovasi layanan, destinasi wisata dapat menjangkau calon wisatawan dari wilayah yang lebih luas. Teknologi juga dapat membantu pelaku industri memberikan informasi yang lebih mudah diakses serta meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.

Bagi Gibran, perkembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya menjadikan sektor tersebut sebagai penggerak ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja. Karena itu, transformasi digital tidak semestinya berhenti pada kegiatan promosi, tetapi juga perlu mendukung pengelolaan destinasi, pengembangan usaha, dan peningkatan kualitas layanan.

Meski demikian, pertumbuhan pariwisata tidak boleh hanya dinikmati oleh perusahaan besar atau pelaku usaha yang memiliki akses modal dan teknologi. Gibran menekankan pentingnya melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi wisata ke dalam rantai bisnis pariwisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung.

Keterlibatan warga dapat diwujudkan melalui berbagai peluang usaha, seperti penyediaan akomodasi, kuliner lokal, jasa pemandu wisata, transportasi, kerajinan, hingga penjualan produk khas daerah. Dengan dukungan pelatihan, akses pasar, dan kemitraan yang berkelanjutan, masyarakat setempat berpeluang menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata.

Sebagai gambaran, Gibran menyinggung penerapan yang dikaitkan dengan Hotel Plataran Bromo. Contoh tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya hubungan antara pengelola usaha pariwisata dan masyarakat di sekitar destinasi. Model pengembangan seperti ini perlu diarahkan agar kegiatan wisata tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi warga setempat.

Keterlibatan masyarakat juga penting untuk menjaga keberlanjutan destinasi. Warga yang memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam pelestarian lingkungan, pemeliharaan tradisi, serta pengembangan produk lokal. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas dan kekayaan daerah.

Selain pemanfaatan teknologi dan pemberdayaan masyarakat, Gibran mendorong warisan budaya Indonesia agar semakin dikenal di pasar internasional. Menurutnya, promosi budaya perlu dilakukan melalui pendekatan kreatif yang mampu menarik perhatian generasi muda dan menjangkau audiens global.

Kolaborasi dengan sektor musik dan industri kreatif menjadi salah satu peluang untuk memperluas jangkauan tersebut. Musik, film, pertunjukan seni, fesyen, serta berbagai bentuk karya kreatif dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat dunia. Ketika dipadukan dengan promosi destinasi wisata, karya-karya tersebut berpotensi mendorong ketertarikan wisatawan untuk mengenal langsung budaya dan tempat asalnya.

Strategi tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku industri pariwisata, komunitas budaya, hingga pekerja kreatif. Dukungan terhadap talenta lokal dan pengembangan produk berbasis budaya juga penting agar promosi ke tingkat internasional tetap memberikan ruang bagi masyarakat Indonesia sebagai pemilik warisan budaya tersebut.

Bagi para lulusan Institut Pariwisata Trisakti, pesan Gibran menegaskan bahwa tantangan industri pariwisata ke depan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola hotel, perjalanan, atau destinasi. Dunia pariwisata juga membutuhkan sumber daya manusia yang memahami teknologi, mampu membaca perubahan perilaku wisatawan, serta memiliki kreativitas untuk mengembangkan pengalaman wisata yang berkualitas.

Penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan pelayanan yang baik, pemahaman terhadap budaya lokal, dan kesadaran menjaga lingkungan. Sebab, daya tarik destinasi tidak hanya ditentukan oleh pemandangan, tetapi juga oleh kualitas pengalaman, keramahan masyarakat, kemudahan akses informasi, serta keberlanjutan pengelolaannya.

Dorongan Gibran tersebut menempatkan transformasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan promosi budaya sebagai unsur yang saling berkaitan dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Teknologi dapat memperluas pasar, industri kreatif dapat memperkuat daya tarik budaya, sedangkan keterlibatan masyarakat membantu memastikan manfaat ekonomi tidak terpusat pada segelintir pelaku usaha.

Dengan pengelolaan yang terarah dan kolaborasi yang kuat, potensi pariwisata Indonesia dapat dikembangkan bukan hanya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, melainkan juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha lokal, dan membawa kekayaan budaya Nusantara semakin dikenal dunia.