Memuat berita

Nasional

Doa dan Tahlil untuk 8 Orang Hilang di Selat Sunda, Solidaritas Warga Menguat

Fazlur Rahman · 15 September 2026 · 12:36 WIB · 4 dibaca
Doa dan Tahlil untuk 8 Orang Hilang di Selat Sunda, Solidaritas Warga Menguat

Foto: Kompas.com

Suasana penuh harap menyelimuti kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Jumat (11/9/2026). Sejumlah warga bersama para jurnalis menggelar doa dan tahlil untuk mendoakan keselamatan delapan orang yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Dari delapan orang yang dilaporkan hilang kontak tersebut, lima di antaranya merupakan jurnalis. Kelima wartawan itu adalah Arie Basuki, Donal Husni, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Bagus Khoirunas

Doa bersama tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan moril bagi keluarga dan rekan-rekan para jurnalis yang masih menunggu kabar. Di tengah operasi pencarian yang terus dilakukan tim SAR gabungan, masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa agar seluruh rombongan segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Kegiatan doa dan tahlil berlangsung ketika pencarian terhadap delapan orang tersebut masih menjadi perhatian utama. Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran di wilayah perairan Selat Sunda dengan mengerahkan personel dan berbagai sarana pencarian.

Hilangnya rombongan tersebut bermula ketika mereka melakukan perjalanan menggunakan kapal menuju kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Lima jurnalis berada di dalam rombongan bersama seorang pemandu wisata serta dua kru kapal.

Mereka diketahui berada di kawasan tersebut untuk menjalankan tugas jurnalistik, termasuk memantau dan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat itu masih menunjukkan aktivitas vulkanik.

Salah satu anggota rombongan sempat berkomunikasi dengan keluarga sebelum hubungan komunikasi kemudian terputus. Setelah tidak ada lagi kabar yang diterima, kekhawatiran keluarga dan rekan-rekan mereka pun semakin besar hingga akhirnya pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Sejak laporan hilang kontak diterima, tim pencarian terus bergerak menyisir sejumlah sektor di kawasan Selat Sunda. Operasi dilakukan dengan memperhitungkan kondisi laut, cuaca, arus, serta aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi faktor keselamatan bagi personel di lapangan.

Dalam operasi semacam ini, setiap informasi menjadi sangat berarti. Koordinat terakhir, laporan dari kapal yang melintas, benda yang ditemukan di laut, maupun informasi dari masyarakat pesisir dapat menjadi petunjuk untuk membantu menentukan arah pencarian.

Namun hingga saat ini, keberadaan delapan orang tersebut masih belum diketahui. Tidak ada kepastian mengenai kondisi mereka maupun lokasi terakhir kapal setelah komunikasi terputus.

Situasi tersebut membuat keluarga dan komunitas jurnalistik terus berada dalam penantian. Setiap perkembangan dari tim SAR menjadi kabar yang ditunggu, sementara harapan agar seluruh rombongan ditemukan dalam keadaan selamat terus dijaga.

Doa dan tahlil di Bundaran Hotel Indonesia menjadi salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap proses pencarian. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk ikut menyisir lautan, tetapi memilih hadir melalui doa dan solidaritas.

Bagi rekan-rekan sesama jurnalis, hilangnya lima wartawan tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Mereka pergi menjalankan pekerjaan untuk mencari informasi dan menyampaikan kabar kepada masyarakat, tetapi kini justru menjadi orang-orang yang sedang dicari.

Kondisi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa tugas jurnalistik di lapangan memiliki risiko, terutama ketika dilakukan di wilayah yang sedang menghadapi bencana alam maupun aktivitas vulkanik. Jurnalis harus berada sedekat mungkin dengan sumber informasi, sementara kondisi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.

Meski demikian, dalam situasi ini perhatian utama tetap tertuju pada keselamatan seluruh rombongan. Proses pencarian harus dilakukan secara maksimal dengan tetap memperhatikan keselamatan tim SAR yang bertugas.

Kehadiran masyarakat dalam doa bersama juga menunjukkan bahwa pencarian delapan orang tersebut tidak hanya menjadi perhatian keluarga dan rekan kerja. Dukungan semakin meluas dari warga yang berharap seluruh rombongan segera kembali berkumpul dengan keluarga masing-masing.

Lima nama jurnalis yang kini berada dalam daftar pencarian menjadi simbol dari penantian panjang tersebut. Arie Basuki, Donal Husni, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Bagus Khoirunas masih dinantikan kepulangannya oleh keluarga, kolega, dan masyarakat yang mengikuti perkembangan pencarian.

Di tengah ketidakpastian, masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kabar mengenai keberadaan korban, kondisi kapal, maupun temuan di laut harus menunggu konfirmasi resmi agar tidak menimbulkan harapan palsu atau kepanikan bagi keluarga.

Operasi SAR masih menjadi tumpuan utama untuk menemukan delapan orang tersebut. Seluruh unsur terkait terus dikerahkan dan berbagai kemungkinan tetap dipertimbangkan selama proses pencarian berlangsung.

Sementara itu, doa terus dipanjatkan. Dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia, warga dan para jurnalis menyampaikan harapan yang sama agar pencarian segera membuahkan hasil dan seluruh rombongan dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Bagi keluarga yang menunggu, setiap hari tanpa kabar terasa sangat panjang. Bagi tim SAR, setiap jam merupakan kesempatan untuk menemukan petunjuk baru. Dan bagi masyarakat yang berkumpul malam itu, doa menjadi cara untuk ikut menemani perjuangan mereka yang masih berada di tengah laut.

Selat Sunda masih menyimpan teka-teki tentang keberadaan delapan orang tersebut. Namun satu hal yang terus menguat adalah harapan. Selama operasi pencarian belum dihentikan, doa dan usaha akan terus berjalan beriringan untuk menemukan Arie Basuki, Donal Husni, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, Bagus Khoirunas, serta tiga orang lainnya yang hingga kini masih dinyatakan hilang kontak.