Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Lampung sebagai upaya mengurangi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Langkah ini dilakukan setelah abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah dan memengaruhi kualitas udara serta aktivitas masyarakat. Operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu menekan konsentrasi partikel abu yang berada di atmosfer sehingga dampaknya terhadap kesehatan dan aktivitas publik dapat diminimalkan.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan dengan dua skema utama yang disesuaikan dengan kondisi cuaca di lapangan. Skema pertama dilakukan dengan memicu hujan melalui operasi modifikasi cuaca. Hujan yang turun diharapkan dapat membantu meluruhkan partikel abu vulkanik yang melayang di udara sehingga jatuh ke permukaan bersama air hujan.
Dengan cara tersebut, konsentrasi abu vulkanik di atmosfer dapat berkurang dan kualitas udara di wilayah terdampak diharapkan membaik. Metode ini menjadi pilihan utama apabila terdapat potensi awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian. Sementara itu, skema kedua diterapkan ketika kondisi cuaca tidak mendukung pembentukan hujan atau tidak tersedia awan yang cukup untuk dilakukan penyemaian. Dalam kondisi tersebut, tim menggunakan metode penyemprotan water mist atau kabut air halus.
Kabut air tersebut berfungsi menangkap dan mengikat partikel-partikel abu vulkanik yang melayang di udara. Dengan demikian, partikel berbahaya dapat diurai dan diturunkan konsentrasinya sehingga mengurangi dampak terhadap kesehatan masyarakat. Menurut Suharyanto, kedua metode tersebut dirancang untuk mempercepat penurunan partikel abu vulkanik yang tersebar di wilayah terdampak. Upaya ini menjadi bagian dari respons pemerintah dalam menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah menjangkau sejumlah daerah.
Pelaksanaan OMC juga menghadapi tantangan tersendiri karena sejumlah penerbangan di beberapa wilayah terdampak mengalami gangguan akibat abu vulkanik. Oleh karena itu, BNPB dan BMKG melakukan penyesuaian dalam menentukan lokasi operasional pesawat modifikasi cuaca. Untuk memastikan operasi berjalan lancar, pangkalan udara maupun bandara yang digunakan dipilih berdasarkan kondisi keamanan penerbangan. Lokasi yang terdampak penutupan operasional akibat abu vulkanik tidak digunakan sebagai basis pelaksanaan operasi.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar kegiatan modifikasi cuaca tetap dapat berjalan optimal tanpa mengganggu aspek keselamatan penerbangan. Tim di lapangan juga terus memantau perkembangan arah sebaran abu vulkanik dan kondisi meteorologi untuk menentukan strategi operasi yang paling efektif.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir telah memengaruhi sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai langkah mitigasi diterapkan pemerintah, mulai dari pembelajaran jarak jauh di sekolah, imbauan penggunaan masker, hingga operasi modifikasi cuaca.