Antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat terlihat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Senin (12/10/2026). Sejumlah warga terpaksa menunggu untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di tengah gangguan pasokan yang dilaporkan terjadi di wilayah tersebut.
Situasi ini menambah beban masyarakat yang membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kendaraan yang biasanya digunakan untuk bekerja, mengantar barang, menjalankan usaha, maupun memenuhi kebutuhan keluarga harus mengantre lebih lama agar dapat memperoleh bahan bakar. Kondisi tersebut berpotensi menyita waktu dan menghambat mobilitas warga, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.
Persoalan pasokan BBM ini juga terjadi ketika sejumlah wilayah di Ketapang masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Warga pun harus berhadapan dengan dua persoalan sekaligus, yakni kesulitan memperoleh bahan bakar dan kualitas udara yang dapat mengganggu kenyamanan serta aktivitas di luar ruangan.
Gangguan pasokan BBM di Ketapang bukan hanya menjadi keluhan warga di satu lokasi. Pada Senin malam, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menggelar rapat koordinasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pihak Pertamina, pengelola Terminal Fuel Jobber Ketapang, serta Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) untuk membahas antrean kendaraan dan keterbatasan stok BBM.
Dalam rapat tersebut, pemerintah daerah menyampaikan bahwa pasokan BBM masih terbatas. Distribusi Pertalite sebelumnya dikurangi sebagai langkah antisipasi sambil menunggu kedatangan kapal pengangkut BBM dari Banten. Kapal itu dijadwalkan tiba paling lambat Rabu (14/10/2026), sedangkan penyaluran pasokan tambahan dari Jobber ke SPBU ditargetkan berlangsung paling lambat Kamis (15/10/2026).
Bupati meminta agar distribusi Pertalite ke SPBU kembali dilakukan sesuai kuota sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Pemerintah daerah juga berencana mengawasi penyaluran BBM untuk memastikan distribusi berjalan sesuai hasil koordinasi dan tidak semakin memperpanjang antrean.
Selain mengupayakan kelancaran pasokan, pemerintah Kabupaten Ketapang menyiapkan alternatif distribusi untuk mengurangi penumpukan kendaraan di SPBU. Salah satu langkah yang dibahas adalah penyaluran Pertamax melalui pengecer dengan harga yang wajar dan koordinasi bersama SPBU. Distribusi BBM juga direncanakan menjangkau Pertashop serta dibagi berdasarkan wilayah pesisir dan pedalaman.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat diimbau tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Pembelian berlebihan atau penimbunan dikhawatirkan semakin menekan ketersediaan bahan bakar dan menyulitkan warga lain yang juga membutuhkannya.
Sementara itu, persoalan kabut asap menambah tantangan bagi masyarakat di sekitar Sungai Awan Kiri dan wilayah lain yang terdampak karhutla. Kebakaran lahan gambut dilaporkan terjadi di Desa Sungai Awan Kiri pada Minggu (11/10/2026), dengan luas area terdampak sekitar 0,8 hektare. Tim gabungan melakukan pemadaman dan berhasil memadamkan sekitar 0,5 hektare lahan, sementara bara api masih menjadi perhatian petugas.
Kabut asap akibat kebakaran lahan dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu kenyamanan saat beraktivitas di luar ruangan. Paparan asap juga berisiko memicu iritasi mata, batuk, dan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan. Karena itu, warga di wilayah terdampak perlu memperhatikan kondisi udara dan membatasi aktivitas luar ruangan apabila asap semakin pekat.
Masyarakat yang harus tetap beraktivitas di tengah kabut asap disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, menghindari pembakaran terbuka, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang memburuk. Pengendara juga perlu meningkatkan kewaspadaan jika jarak pandang menurun akibat asap.
Kombinasi antrean BBM dan kabut asap berpotensi memengaruhi berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari perjalanan menuju tempat kerja, distribusi barang, kegiatan perdagangan, hingga pelayanan sehari-hari. Bagi warga yang mengandalkan sepeda motor atau mobil untuk mencari penghasilan, waktu yang tersita di SPBU dapat menambah beban ketika aktivitas mereka sudah terganggu oleh kondisi lingkungan.
Karena itu, kepastian jadwal pasokan dan distribusi BBM menjadi hal penting untuk mengurangi ketidakpastian di lapangan. Pemerintah daerah bersama Pertamina dan pengelola SPBU perlu memastikan informasi mengenai ketersediaan BBM disampaikan secara jelas kepada masyarakat, sementara pengawasan distribusi dibutuhkan agar pasokan yang tersedia dapat menjangkau konsumen sesuai kebutuhan.
Di sisi lain, penanganan karhutla perlu terus dilakukan untuk mencegah api kembali meluas dan mengurangi dampak asap terhadap warga. Upaya pemadaman, pemantauan titik api, serta penyampaian informasi kualitas udara menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan masyarakat selama kondisi tersebut berlangsung.
Antrean panjang di SPBU Sungai Awan Kiri pada Senin (12/10/2026) menjadi gambaran tekanan yang dihadapi warga Ketapang ketika pasokan BBM terganggu dan kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah. Masyarakat kini menantikan distribusi BBM yang lebih lancar sekaligus penanganan karhutla yang efektif agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan lebih normal.