Memuat berita

Nasional

Antrean BBM Mengular di Bali, Dirut Pertamina Ungkap Gangguan Jangkar Kapal Tanker dan Lonjakan Konsumsi

Fazlur Rahman · 14 Oktober 2026 · 17:06 WIB · 3 dibaca
Antrean BBM Mengular di Bali, Dirut Pertamina Ungkap Gangguan Jangkar Kapal Tanker dan Lonjakan Konsumsi

Foto: Jawa Pos

Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh gangguan teknis pada kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) saat proses bongkar muat, serta meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi, terutama Pertalite.

Simon menjelaskan, gangguan teknis terjadi pada bagian jangkar salah satu kapal tanker yang mengangkut BBM ke Bali. Kendala tersebut membuat proses sandar dan bongkar muat kapal mengalami keterlambatan sehingga memengaruhi kelancaran rantai distribusi BBM menuju sejumlah SPBU.

Berdasarkan penjelasan Simon, proses sandar dan bongkar muat yang semula dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/10/2026) pukul 06.30 WITA baru dapat dilakukan sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan hampir 16 jam tersebut mengganggu jadwal penyaluran pasokan dan turut memicu antrean kendaraan di sejumlah SPBU. 

Selain kendala teknis pada kapal tanker, Pertamina juga mencatat peningkatan konsumsi BBM bersubsidi di masyarakat. Simon menyoroti perbedaan harga yang cukup jauh antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi sebagai salah satu faktor yang mendorong meningkatnya penggunaan Pertalite.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi tersebut turut memengaruhi ketersediaan BBM di tingkat penyaluran. Ketika permintaan meningkat, sementara distribusi mengalami keterlambatan, pasokan di sejumlah SPBU dapat mengalami tekanan dan memicu antrean lebih panjang.

Meski membeberkan sejumlah faktor penyebab gangguan, Simon menegaskan bahwa kendala teknis maupun lonjakan konsumsi tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan kelangkaan BBM yang dirasakan masyarakat Bali. Ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami warga akibat antrean panjang di berbagai SPBU.

Pertamina, kata Simon, bertanggung jawab memastikan pelayanan dan distribusi energi kepada masyarakat tetap berjalan. Karena itu, perusahaan bersama Pertamina Patra Niaga dan Pemerintah Provinsi Bali melakukan koordinasi untuk mempercepat pemulihan pasokan serta mengurai antrean kendaraan.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan pengiriman BBM menggunakan armada kapal yang tersedia dan mempercepat distribusi dari depo menuju SPBU. Pertamina juga melakukan pemantauan terhadap proses sandar kapal tanker agar kendala serupa tidak kembali menghambat penyaluran pasokan.

Di sisi operasional, Pertamina menyiapkan penambahan armada mobil tangki dari sebelumnya 90 unit menjadi 105 unit. Penambahan tersebut diharapkan mempercepat pengiriman BBM dari terminal penyimpanan ke SPBU, terutama di wilayah yang mengalami antrean panjang.

Pertamina juga mengoperasikan depo BBM Manggis dan Sanggaran selama 24 jam untuk menjaga kelancaran distribusi. Selain itu, sebanyak 92 SPBU di Denpasar dan Badung dijadwalkan beroperasi sepanjang hari guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Perluasan operasional 24 jam ke wilayah Tabanan dan Gianyar juga disiapkan secara bertahap. 

Untuk mendukung kelancaran pengiriman, distribusi mobil tangki turut dikoordinasikan dengan aparat kepolisian. Pengawalan kendaraan pengangkut BBM di jalan raya diharapkan dapat membantu mempercepat perjalanan armada menuju SPBU yang membutuhkan pasokan tambahan.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa berdasarkan skema pengiriman yang dipaparkan Pertamina, pasokan Pertalite dan Pertamax diproyeksikan mencukupi kebutuhan masyarakat Bali hingga dua pekan ke depan. Pemerintah daerah bersama Pertamina berupaya memastikan distribusi berjalan lebih lancar dan penanganan dilakukan secara terpadu.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara bersamaan apabila persediaan BBM masih mencukupi. Pengaturan waktu pengisian diharapkan dapat membantu mengurangi penumpukan kendaraan di SPBU, terutama di wilayah yang sedang mengalami gangguan distribusi.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keandalan rantai pasok energi, khususnya untuk wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut. Gangguan pada satu tahapan distribusi dapat berdampak pada ketersediaan BBM di tingkat konsumen apabila tidak segera diatasi dengan langkah antisipasi yang memadai.

Pertamina menyatakan akan terus memantau kondisi distribusi hingga pelayanan di SPBU kembali normal. Percepatan pengiriman, penambahan armada, dan operasional fasilitas selama 24 jam menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memulihkan pasokan serta memastikan kebutuhan energi masyarakat Bali tetap terpenuhi.

Meski penyebab gangguan telah diidentifikasi, perhatian utama kini tertuju pada kecepatan pemulihan distribusi dan kepastian pelayanan bagi masyarakat. Pertamina menegaskan bahwa kendala operasional tidak boleh mengurangi tanggung jawab perusahaan dalam menjaga ketersediaan BBM dan memberikan pelayanan yang dapat diandalkan.