Memuat berita

Nasional

Air Waduk Jatigede Surut Drastis, Bekas Masjid dan Makam Leluhur Bermunculan

Devi Sry Atmaja · 08 Oktober 2026 · 17:57 WIB · 4 dibaca

Kemarau panjang membuat volume air di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, menyusut drastis. Kondisi tersebut membuat sejumlah area yang selama ini berada di bawah permukaan air kembali terlihat, termasuk daratan yang menjadi dasar waduk. Surutnya air Waduk Jatigede tidak hanya memperlihatkan hamparan tanah yang sebelumnya terendam. Sejumlah bangunan dan situs yang berkaitan dengan permukiman lama turut kembali muncul ke permukaan. Salah satunya berupa bangunan bekas masjid yang sebelumnya berada di kawasan yang terdampak pembangunan waduk.

Selain bekas bangunan masjid, makam-makam leluhur yang sebelumnya berada di area genangan Waduk Jatigede juga kembali terlihat. Kemunculan makam tersebut menjadi pemandangan yang mencolok di tengah kondisi waduk yang mengalami penyusutan volume air. Fenomena ini terjadi seiring berlangsungnya kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah. Berkurangnya pasokan air dan tingginya penguapan menyebabkan permukaan Waduk Jatigede turun sehingga bagian-bagian yang sebelumnya terendam mulai terbuka.

Hamparan daratan yang muncul membuat kontur dasar waduk terlihat lebih jelas. Di sejumlah titik, tanah yang sebelumnya tertutup air kini tampak kering dan membentuk area luas di sekitar waduk. Kemunculan kembali bangunan bekas masjid dan makam leluhur juga mengingatkan pada kondisi kawasan sebelum Waduk Jatigede digenangi. Sebelum pembangunan waduk, wilayah tersebut merupakan kawasan yang dihuni masyarakat dan memiliki berbagai fasilitas serta tempat yang memiliki nilai sejarah bagi warga setempat.

Pembangunan Waduk Jatigede menyebabkan sejumlah wilayah harus dikosongkan dan kemudian digenangi sebagai bagian dari proyek bendungan. Berbagai bangunan, lahan, serta permukiman yang berada di kawasan genangan pun akhirnya berada di bawah permukaan air. Saat permukaan air kembali surut secara signifikan, sejumlah peninggalan tersebut dapat terlihat kembali. Kondisi itu sekaligus memperlihatkan perubahan lanskap Waduk Jatigede yang cukup drastis akibat berkurangnya volume air.

Surutnya waduk juga menjadi gambaran dampak musim kemarau terhadap kondisi sumber daya air. Waduk yang berfungsi sebagai salah satu infrastruktur penting untuk mendukung kebutuhan air dan pertanian harus menghadapi tekanan ketika curah hujan menurun dalam waktu yang panjang. Munculnya kembali makam-makam leluhur di kawasan waduk juga menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat yang memiliki keterikatan sejarah dengan wilayah tersebut. Makam yang sebelumnya berada di bawah genangan kini dapat terlihat seiring turunnya permukaan air.

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa di balik keberadaan Waduk Jatigede terdapat sejarah panjang masyarakat yang pernah tinggal di kawasan tersebut. Ketika air surut, jejak kehidupan masa lalu yang selama bertahun-tahun tertutup air kembali terlihat. Kondisi Waduk Jatigede saat kemarau panjang ini pun menjadi perhatian masyarakat. Warga dan pengunjung diimbau tetap berhati-hati ketika berada di area waduk yang mengalami penyusutan, terutama pada bagian dasar waduk yang memiliki kontur tidak merata dan berpotensi membahayakan jika dimasuki tanpa pengawasan.

Perubahan kondisi waduk juga perlu terus dipantau, terutama terkait ketersediaan air dan kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan. Pemantauan terhadap volume air menjadi penting agar fungsi Waduk Jatigede tetap dapat berjalan di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering. Surutnya air Waduk Jatigede bukan hanya memperlihatkan dampak kemarau panjang terhadap sumber daya air, tetapi juga membuka kembali jejak sejarah yang selama ini berada di bawah permukaan waduk. Bekas masjid, makam leluhur, hingga daratan yang sebelumnya terendam kini kembali terlihat dan menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut berubah menjadi waduk.