Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mencapai wilayah Jakarta. Gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda tersebut terus mengalami aktivitas erupsi sejak Jumat, 4 September 2026 malam, dengan material vulkanik terbawa oleh pergerakan atmosfer menuju sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis kondisi atmosfer pada Minggu, 6 September 2026 pukul 04.00 WIB.
Informasi tersebut diperoleh BMKG dengan mengacu pada data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9.
"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," demikian keterangan BMKG dalam situs resminya.
Salah satu klaster sebaran abu tersebut bergerak menuju arah Jakarta dan meliputi sejumlah wilayah di Banten serta Jawa Barat. Material vulkanik terpantau berada pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki
"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 ft teramati ke arah Timur Laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya," tulis BMKG.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak erupsi Anak Krakatau telah menjangkau wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi. Abu vulkanik yang berada di atmosfer dapat bergerak mengikuti pola angin dan kondisi cuaca, sehingga wilayah terdampak tidak selalu berada tepat di sekitar gunung api.
Bagi Jakarta dan wilayah sekitarnya, keberadaan abu vulkanik di atmosfer menjadi perhatian tersendiri, terutama karena kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas masyarakat dan memiliki sejumlah simpul transportasi udara dengan tingkat mobilitas yang tinggi.
Sebelumnya, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau juga telah berdampak terhadap operasional sejumlah bandar udara. Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di kawasan bandara.
Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta juga mengalami penutupan sementara pada Minggu pagi. Penutupan tersebut diberlakukan berdasarkan NOTAM Nomor A3345/26 dan mulai berlaku pukul 07.20 WIB, dengan estimasi operasional ditutup hingga pukul 10.00 WIB.
Selain dua bandara di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Bandara Raden Inten II di Lampung serta Bandara Budiarto Curug juga dilaporkan mengalami penutupan sementara akibat dampak sebaran abu vulkanik.
Gangguan tersebut memperlihatkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menjadi persoalan di kawasan Selat Sunda. Ketika material vulkanik terangkat ke atmosfer dan kemudian bergerak mengikuti kondisi angin, dampaknya dapat menjalar hingga ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi.
Dalam dunia penerbangan, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan merupakan kondisi yang harus diwaspadai. Karena itu, informasi mengenai arah dan ketinggian sebaran abu menjadi bagian penting dalam menentukan keamanan operasional penerbangan.
BMKG bersama lembaga terkait terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik melalui data satelit dan informasi atmosfer. Pemantauan tersebut diperlukan karena arah maupun luas sebaran abu dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai. PVMBG menetapkan status gunung api tersebut pada Level III atau Siaga
Erupsi terbaru Anak Krakatau juga dilaporkan disertai fenomena lava fountain
Kini, perhatian tertuju pada pergerakan abu vulkanik yang telah mencapai wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dengan sebaran yang teridentifikasi hingga ketinggian 20.000 kaki, perkembangan arah angin dan kondisi atmosfer menjadi faktor penting yang akan menentukan wilayah mana saja yang berpotensi kembali terdampak.
Masyarakat di wilayah yang berada dalam jalur sebaran abu diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG dan PVMBG. Sementara bagi pengguna jasa penerbangan, informasi dari maskapai dan pengelola bandara perlu menjadi rujukan utama karena kondisi operasional dapat berubah sesuai perkembangan sebaran abu vulkanik.
Erupsi Anak Krakatau sekali lagi menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak jauh melampaui kawasan kawah. Dari Selat Sunda, abu vulkanik kini telah terdeteksi mencapai Jakarta dan wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi pengingat bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan kondisi atmosfer harus terus dipantau secara bersamaan demi keselamatan masyarakat dan penerbangan.